Indahnya Ramadhan di Haramain

Posted: December 3, 2010 in My Life

Tatkala mengingat kenangan Indah ketika saya melaksanakan Umroh di bulan Ramadhan tahun lalu (1430 H), ingin rasanya kembali ke Haramain (Makkah dan Madinah) untuk menikmati khidmatnya Ramadhan disana. Sayangnya tahun ini, saya harus bersabar dengan mencukupkan diri beribadah Ramadhan di Tanah Air.

Sekedar mengenang pengalaman tahun lalu, dari kantor kami ada 5 orang yang dipanggil oleh atasan kami untuk melaksanakan Umroh. Alhamdulillah salah satunya adalah saya. Saya tak pernah menyangka akan menjadi salah satu yang diajak, mengingat status saya yang hanya staff biasa di kantor, sementara yang biasa diajak adalah mereka yang berasal dari kalangan direksi perusahaan. Ketika menyampaikan kabar tentang rezky yang tak disangka-sangka ini kepada istri dan ibu, mereka tak mampu menahan haru, Alhamdulillah ya Allah.

Umroh biasa juga disebut oleh kalangan umat muslim di Indonesia sebagai Haji Kecil, dan dalam Syariat Islam penamaan ini tidak ada. Sebagian besar umat Muslimin di seluruh dunia memilih untuk melaksanakan Umroh pada bulan Ramadhan, mengingat besarnya keutamaan yang bisa didapatkan. Apalagi paket yang dipilih adalah paket Lailatul Qadr yang durasinya sekitar 20 hari, 5 hari di Madinah, 15 Hari di Makkah. Khusus 10 malam terakhir plus 5 hari setelah Iedul Fitri dihabiskan di Makkah.

Karena tingginya animo Umat Muslimin untuk berumroh pada bulan Ramadhan, maka banyak anggapan bahwa bulan Ramadhan merupakan gambaran padatnya dua kota suci Umat Muslimin (Makkah dan Madinah) pada bulan Haji yang akan datang. Jika sedang padat-padatnya, Jamaah Mu’tamirin yang memenuhi kota Makkah dan Madinah, tak ubahnya seperti jamaah Haji pada bulan Haji.

Karena 10 hari terakhir Ramadhan kami muqim di Makkah, maka kesempatan ini tentunya tidak kami sia-siakan begitu saja, apalagi hotel tempat kami menginap cukup dekat ke arah Masjidil Haram tepatnya dari sisi tempat sa’i. Mungkin bagi anda yang pernah mendengar nama pasar kucing dan Masjid Kucing, nah disekitar itulah hotel tempat kami menginap. Walaupun tidak semewah kompleks hotel yang letaknya tepat didepan Masjidil Haram, tapi lumayanlah, karena kami cukup berjalan kaki 100 meter dan sampailah kami di Masjidil Haram.

Alhamdulillah saya dan teman-teman diberi hidayah untuk tidak melewatkan setiap waktu sholat, melainkan dilaksanakan di Masjidil Haram. Bukankah terdapat keutamaan yang besar di dalamnya?! “Mumpung kita masih disini, karena tahun depan belum tentu kita masih disini” begitulah prinsip bersama kami waktu itu.

Salah satu kenangan indah yang kami rasakan disana adalah tingginya rasa persaudaraan dengan sesama umat muslimin dari seluruh penjuru dunia, dari berbagai negara, berbagai ukuran tubuh, berbagai ras,  berbagai karakter, semuanya disatukan oleh Al-Islam. Selain itu masih banyak kenangan manis yang kami rasakan disana, lain kali Insya Allah akan saya ceritakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s