God Bye Multitasking, Wellcome Unitasking

Posted: December 3, 2010 in My Life
Tags: ,

Dari dulu, Multitasking adalah istilah yang sangat saya kagumi. Saya senang jika bisa bekerja secara multitasking, karena lebih menantang jika dibandingkan dengan unitasking. Dari dulu saya memang senang mengerjakan beberapa hal secara bersamaan dalam satu waktu. Saya akan merasa lebih bergairah jika menaklukkan beberapa tantangan sekaligus dibandingkan hanya berkutat dengan satu tantangan.

Tapi, setelah membaca sebuah artikel yang berjudul “The Death of Multitasking and Rebirth of Unitasking” siang tadi, pandangan saya tentang multitasking mulai goyah. Bagaimana tidak, Steven Aitchison si penulis artikel ini, dengan berani mengatakan bahwa multitasking justru mengurangi produktifitas. Lho, bukankan dengan multitasking banyak hasil yang bisa dihasilkan dalam satu waktu?  Tunggu dulu itu kan masih sebatas asumsi.
Professor David Meyer dari University of Michigan melakukan studi tentang multitasking, dengan menyuruh beberapa orang mengerjakan soal-soal matematika secara bersamaan sekaligus. Dia mendapati bahwa dengan mengerjakan secara multitasking, waktu yang dibutuhkan lebih lama jika dibandingkan dengan mengerjakan soal-soal tersebut satu per satu. Nah, sudah ada satu bukti kan kalo unitasking itu lebih efektif dibanding multitasking.

Di tempat lain, tepatnya di Massachusets Institut of Technology (MIT, kenal kan?!) Professor Earl Miller melakukan analisa aktifitas otak terhadap beberapa orang volunter yang dihadapkan pada banyak objek sekaligus. Dan ternyata otak si volunter tadi hanya bisa fokus kepada satu sampai dua objek saja. Dari sini, Prof Earl Miller tetangga saya itu, berkesimpulan bahwa dalam satu waktu kita tidak bisa fokus kepada beberapa hal sekaligus. Selain itu, otak akan bekerja secara lebih efisien jika tidak terlalu banyak mengolah data dalam satu waktu.

Multitasking juga diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya stres dalam pekerjaan. Multitasking bahkan menjadikan otak bekerja sedikit lambat. Apalagi jika belum satu pun dari banyak pekerjaan itu yang bisa diselesaikan, maka hal ini akan memberikan pressure pada otak dan psikologis sehingga timbullah stress. Na’udzubillah..

Oleh karena itu sangat disarankan untuk bekerja secara unitasking. Ingat unitasking disini, tidak menuntut anda untuk menjadi orang yang hanya bisa melakukan satu pekerjaan saja. Dengan unitasking, anda tetap dapat melakukan banyak aktifitas, tapi tidak dalam satu waktu bersamaan, melainkan secara sekuensial atau berurut. Selesaikan dulu yang ini, baru kemudian selesaikan yang itu dan yang itu. Katanya pekerjaan anda akan lebih efisien.

Bagaimana memulai menerapkan multitasking ini? Seteven Aitchison membeberkan tipsnya:

1. Bersihkan/Rapikan ruang di sekitar anda. Kata orang, meja yang rapi menunjukkan pemikiran yang rapi. Cobalah jadikan suasana tempat kerja anda serapi mungkin. Singkirkan untuk sementara, benda-benda yang tidak dibutuhkan untuk pekerjaan saat ini.

2. Atur ulang file-file di komputer anda. Kalo bisa kelompokkan dalam folder-folder yang sama. Misalkan file–file tutorial ditempatkan di folder tutorial, dan lain sebagainya. Hal ini akan membantu anda bekerja di depan komputer secara lebih sistematis.

3. Jangan membuka beberapa program sekaligus di komputer anda. Iya, namanya juga unitasking, tidak usah buka banyak-banyak program sekaligus, hal itu akan menggangu fokus anda pada pekerjaan anda yang sebetulnya. Sebaiknya menjalankan program berdasarkan skala prioritas. Jika tidak masuk prioritas tidak usah dirun dulu lah.

4. Matikan HP dan aplikasi messaging. Kalo anda  ingin fokus, cobalah minimalkan potensi gangguan dari luar misalnya telpon atau chat dari teman tentang hal-hal yang tidak terlalu perlu. Semakin sering anda harus menjawab telpon dan message dari orang lain, maka semakin banyak waktu terbuang.

5. Jangan takut untuk meminta orang lain tidak mengganggu anda. Anda punya hak untuk bekerja dengan nyaman dan fokus. Jika ada yang meminta bantuan atau ada tugas tambahan dari atasan, anda bisa menolak dengan halus dengan alasan tidak bisa melakukannya sekarang, tapi akan segera diselesaikan jika tugas saat ini telah selesai.

Nah, kesimpulannya bukan karena kemampuan seseorang untuk bekerja secara multitasking yang menjadikkanya superior. Tapi, kemampuannya dalam melaksanakan semua pekerjaan dengan kualitas yang maksimal walaupun itu dilakukan dengan unitasking. ‘Multitasking is dead, unitasking is reborn’, itu kata si Steven Aitchison lho, bukan kata saya..hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s